Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan zaman membawa perubahan sikap dan tingkah laku dan tentu mind set terhadap alat beli yang namanya uang. Dulu uanga hanya menjadi alat beli semata, orang bekerja untuk mendapatkan uang untuk mwnghidupi keluarga, untuk belanja keluarga, ,mencukupi sandang, pangan, dan papan. Tidak lebih dari itu kemudian untuk baiaya anak sekolah dan masa depan anak-anaknya dengan menabung sisa belanja sedikit demi sedikit. tetapi seiring waktu uang bukan lagi sekedar alat beli untuk memenuhi kebutuhan hidup tetapi uang sekarang menjadi alat untuk mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan menurut Para akhli seperti diungkap para akhli didapat dari keturunan, pendidikan, situasi, kompetensi, kesempatan, dan lain sebagainya pendapat ini telah bergeser kalau saya boleh berteori mempunyai uang berarti mempunyai kekuasaan. Hal ini dapat dibuktikan siapapun yang memmpunyai uang tanpa harus ada persyarata lain yang bersangkutan dapat menguasai ekonomi, menguasai Tambang, menguasai perkebunan, menguasai organisasai, menguasai Partai Politik, mengendalikan Penguasa, menentukan dan mengendalikan pejabat birokrasi. Keadan ini lah yang mendorong oknum politisi dan oknum birokrasi yang sedang memiliki kewenangan dan kekuasaan melakukan Korupsi, Kolusi dan dan Nepotisme baik dilakukan sendiri-sendiri maupun secara kelompok baik dengan cara konvesional tradisional maupun nsecara sistematis dan masif. Selama Uang menjadi ukuran dan dijadikan alat untuk mencapai kekuasasaan maka selama itu pula penyakit masyarakat yang namanya KKN, Pembunuhan, manipulasi, perampokan tak kan pernah berakhir. Untuk mengakhiri semua itu perlu d=terus dilakukan perubahan mind set warga masyarakat bahwa untuk mencapai kesuksesan dan mencapai kekuasaan uang buklanlah satu-satunya alat tetapi hanya menjadi alat pelengkap saja yang utama adalah : kejujuran, tanggung jawab, semangat juang, prestasi, pendidikan Kopetensi, pengalaman, karya nyata di masyarakat, dan lain sebagainya.
Komentar
Posting Komentar